05 January 2017

2017

Instead of resolution, this year here's what I tell to myself :
1. I want to be able to embrace myself for whatever I am. "Who will love you if you're that ashamed of yourself?"
2. I hope I can have a stable career. Two and a half years of start-up journey had drowned myself, epically.
3. I wish all the great things for my family.

Welcome 2017.
Thank you 2016.

06 October 2016

BCA, Senantiasa di Sisi Saya

Sejak mulai bekerja, saya membuka rekening Tahapan di BCA. Saya menggunakan rekening BCA sebagai cash flow harian saya. Awalnya saya belum menggunakan fasilitas KLIK BCA, namun suatu hari ketika pergi ke Gandaria City saya baru mengetahui bahwa di gerai BCA, kita dapat melakukan pengajuan penggunaan KLIK BCA melalui layanan video call dengan customer service BCA (dan juga kebutuhan atau aduan lain). Token akan diberikan oleh petugas yang berada di tempat setelah kita selesai melalui tahapan pengajuan KLIK BCA. Layanan video call ini menurut saya sangat membantu kebutuhan atau aduan dari nasabah BCA, karena berlokasi di mall dan dapat diakses dari hari Senin - Minggu.

Di akhir bulan, ketika menerima gaji, saya akan langsung menuju ke website KLIK BCA. Saya telah menyiapkan list pengeluaran bulanan rutin saya, transaksi perbankan apa saja yang harus saya lakukan, dan juga berapa banyak uang tunai yang harus saya ambil dari ATM BCA

Saya rutin melakukan pembayaran listrik, telepon, dan TV kabel setiap bulannya. Transaksi tersebut mudah dilakukan, dan juga dapat disimpan di Daftar Pembayaran. Sifat transaksi melalui KLIK BCA juga online, sehingga pembayaran yang dilakukan dapat langsung berhasil tanpa jeda waktu harian. Hal ini mencegah kemungkinan kita untuk melewati jatuh tempo pembayaran apabila kita melakukan transaksi saat telah mendekati waktu jatuh tempo.

Untuk keperluan akan uang tunai, ATM BCA sangat mudah ditemukan menurut saya. Baik di mall-mall besar maupun di sekitaran jalan. Terlebih di mall besar, seperti Gandaria City atau Kota Kasablanka, bahkan ATM BCA memiliki gerai tersendiri yang terdiri dari lebih dari 10 mesin ATM.



Kartu Kredit pertama yang saya miliki adalah Kartu Kredit BCA. Pengajuannya cepat dan mudah. Pembayaran juga dapat dilakukan melalui KLIKBCA. Saya dapat mengajukan kenaikan limit dan jatuh tempo baru untuk kartu kredit saya dengan menghubungi HALOBCA saja di 1500888. Dokumen yang dibutuhkan dapat dikirim melalui email, saya diberikan estimasi selesainya laporan, dan cara follow up laporan. Estimasi yang diberikan tepat, sehingga saya tidak perlu melakukan follow up

Saya dapat mengecek transaksi dan tagihan kartu kredit lewat KLIKBCA. Setelah beberapa jam atau keesokan harinya, transaksi kartu kredit yang kita lakukan akan muncul, hal ini mempermudah pemantauan penggunaaan kartu kredit saya secara berkala (tidak perlu menunggu tagihan melalui electronic statement di akhir bulan).

Promo dari Kartu Kredit  BCA yang paling sering saya gunakan adalah untuk upsize minuman di Starbucks. Beberapa kali saya juga membeli kue dari Colette and Lola dengan promo potongan 10% dengan Kartu Kredit BCA. Terakhir saya makan di Cupbob Gandaria City dan mendapat potongan 15% dengan Kartu Kredit BCA



Selain kartu kredit, saya juga menggunakan Debit BCA untuk transaksi harian dari kisaran nominal puluhan ribu sampai jutaan karena mayoritas semua merchant di toko ataupun mall dapat menerima pembayaran dengan Debit BCA. Untuk urusan asuransi, saya juga memiliki Provisa Syariah (kerjasama BCA dengan AIA) yang meliputi produk asuransi dan investasi, dengan kontribusi bulanan sebesar Rp.500.000. Saya juga pernah membuka Deposito berjangka BCA dengan sistem ARO plus. Pada saat saya melakukan penutupan deposito tersebut, hanya memakan waktu kurang dari 1 jam dan uang langsung cair ke rekening saya.

Seperti judul artikel ini, BCA memang senantiasa di sisi saya. Dari tabungan, deposito, kartu kredit, kartu debit, asuransi, internet banking. Semua fasilitas yang disediakan BCA yang pernah saya gunakan berkualitas sangat baik dan mempermudah transaksi harian ataupun bulanan saya. Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, baik dari sisi histori maupun presensi saat ini, saya percaya dengan kualitas BCA untuk mendukung transaksi perbankan harian masyarakat Indonesia. 

BCA, senantiasa di sisi saya.

berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition

30 August 2016

Your job is a vacation


This.
 
I don't know why I laughed so hard over this. Also, somehow this makes me appreciate my job even more.
 
Gotta try to watch Fresh Off the Boat then!

28 July 2016

What a day

Roy Kim's Maybe I on looping.

A piece of something that's used to be yours.

Painful memory.

What a day to be remembered.

01 July 2016

What I did wrong

We think we’re hideous but someone else out there thinks we’re gorgeous.
We don’t ask out that person because we tell ourselves that they couldn’t like us.
 Recently, I came across one good article in thought catalog. The above is one of the related part of the article for me. I don't know how someone/someone new sees me from my outer look, my appearance. Do I look confident? Do I look like I'm proud of myself?

After reading that article, I'm thinking about what I might do wrong about myself :
1. Over-thinking
2. Over-talking
3. Over-expecting

(not sure if those words exist, but yeah)

For the first one, yes, over-thinking leads to baper. I am over-thinking on almost everything. Baper is like the way of my life. Friendship, love life, office drama, just name it. I remember once my friend told me that I was way too baper. At first, I was mad at him but lately I feel sort of ashamed of myself, especially the super baper version of myself. Cause really, I realize that I am that baper.

For the second one, it's not that I am socially active, or talkative, not at all. It's just that I do really like to tell stories when I find the "connection" with that certain people. I am usually quite, but once I get comfortable with someone, I will talk, talk, and talk. And so I remember my other friend told me that I need to "meet" a guy who would like to listen to my endless stories. Lol. I just came to a realization that this second part actually would freak people out. As I would talk about everything... sometimes I believe they will find me....scary? If not, they will slowly back off from my life. Maybe it's normal to talk and talk and talk. But on the other hand, it gets really tiring to listen to other people's drama? So sometimes, it's better to keep something to yourself and let you solve it yourself.

For the last one, it's kinda connected with the first one. Over-thinking, over-expecting, baper. That vicious cycle. Every time I don't hope or expect for something, I get it. SO is it that wrong to hope, to expect? This time I remember what my other other friend told me "you are not allowed to be sad if you don't do anything about it". That's what exactly I do. I just hope and expect without really doing something about it. And by not doing anything, I'm hoping something will happen just as it is. So who's the wrong here?

I'm not really sure about what I just wrote here but I do admit that it's because of him.
.
.
.
Azik.

18 April 2016

Permasalahan baper ini

"Lo tuh terlalu baper Mon"
"Jangan baper-baper lagi ya Mon"

Seringkali kata "baper" ini keluar untuk menggambarkan diri gue, baik dari gue sendiri maupun dari orang lain. Dan sejujurnya gue mengakui kok, kalo gue anaknya emang baper banget. Apapun gue baperin. Nonton drama korea, baper. Pisah sama temen sekolah, baper. Jalan-jalan ke sekolah lama, baper. Abis resign, baper. Nyari kerjaan, baper. Yaelah. Cape banget deh. Perna suatu kali gue dengerin curhatan temen gue, terus gue bilang sama dia sebagai konklusi "udah, makanya lo jangan terlalu baper!" Terus dia tanya gue "gimana caranya?" Yang gue jawab dengan "ya mana gue tau, gue kan orangnya baper banget" yang akhirnya tentu saja gue dikeplak sama temen gue HAHAHA.

Sungguhan, gue itu bener-bener baper to the point I can't understand myself. Mungkin orang lain cuma baper kalo soal cinta-cintaan ya. Kalo gue, seperti yang gue jabarkan di atas, apa juga dibaperin. Gue pernah baca dimana gitu, katanya semua orang memang akan baper pada waktunya. Means, ga ada obat penyembuh kebaperan ini. Nah gimana dengan gue? Yang apa aja dibaperin, setiap waktu baper. Kadang, gue pengen juga jadi orang YOLO yang hajar aja, gausa lah semua hal dipikirin dibaperin gitu. Tapi, ya gatau gimana caranya ya.

Sekarang jadi lagi baperin apa Mon?

"Kantor lama".

Ehe ehe ehe. 

Jadi mungkin gue memang ga perna cerita disini banget tentang kedramaan di kantor lama gue. Intinya adalah gue sekarang uda di kantor baru (yang insya Yesus lebih berkah yah). Nah terus kenapa sekarang baperin kantor lama deh?

"Kenapa ya?"

Simpel aja, blog ini mungkin salah satu saksi kegalauan gue jaman kuliah dulu. Tiap hari kerjaannya nungguin Jumat mulu. Minggu pagi aja udah galau karena bentar lagi Senin. Super puji Tuhan banget gue ga ngalamin hal itu di kehidupan perkantoran gue. Ke kantor itu ga pernah jadi beban untuk gue. Biasa aja gitu. Kerja ya kerja, weekend ya weekend, tapi gasampe longing for weekend all the time gitu. 

Intinya, apa sih yang dibaperin soal kantor lama?

"Temen-temennya."

Memang saat meninggalkan kantor sebulan yang lalu itu, keadaan kantor bukanlah keadaan yang gue rindukan ya. Tapi, untuk orang baper kayak gue, men, 2 tahun gue disana, 5x dalam seminggu, Jam 9 sampe selesai. Pulang kantor, makan di Gunawarman, nongkrong di Senop, nonton ke PP, sekedar nemenin belanja doang ke PP. Pulang kantor maennya sama anak-anak kantor juga. Di kantor kalo uda makan siang heboh banget, waktu cemal cemil sorenya. Kangen banget deh! 

Sekarang, semua anak-anak kantor lama tersebar dimana-mana, dan tentunya keadaan tidak akan pernah sama seperti dulu (seperti halnya gue ga akan balik lagi ke SMA hiks). Yang lucu adalah, kita kayak ga bisa move on dari Wolter dan sekitarnya gitu. Kalo ktemuan, nongkrong tetep aje di Kanawa lah, ato bahkan KFC Gunawarman, ato PHO yang di Wolter, Anomali Senopati. :') Terus tiap lewat gedung kantor lama kayak ada "nyezzz" hahahahah ini gue doang sih kyknya, gatau juga dah.

Well, I guess this is part of growing up. Bertahun-tahun lulus SMA juga ga bisa move on gue, sekarang apalagi dunia kerja, ya mana mungkin juga semua orang disitu-situ aja. I just hope, semua anak-anak kantor lama gue masih bisa catch up sesekali, reminiscing our golden times together, dan tentunya semuanya lebih berkah lagi kerjaan barunya.

Amin.

09 February 2016

Tentang Teman

Selama gue menulis disini, mungkin paling sering ngomongin kehidupan pas SMA dulu. Most of my friends are my high school friends, tepatnya most of my closest friends. Gue berpikir mungkin karena waktu SMA itu, gue ketemu sama orang-orang itu 6 kali dalam seminggu. Dari jam 7 pagi sampai 2 siang. Setiap hari untuk bertahun-tahun, apalagi kalo sekelas. Sampe bosen juga ya dia lagi dia lagi orangnya. Bondingnya kuat sekali. 

Lalu sampailah gue di masa kuliah. Bukannya ga punya teman ya, tapi kalo melihat hal secara general, kuliah yang gue jalani itu sangat individualis dibandingkan dengan SMA. Apalagi gue tipe KupuKupu di kampus. Setahun totalnya kuliah cuma 8bulan, potong sabtu-minggu, tanggal merah, terus kuliahnya cuma dari jam 8 sampai jam 2 siang. Manalah gue orangnya ansos sekali di kampus, yaudah 3.5 tahun lewat begitu aja. 

Sekitar 2 tahun sudah gue menjalani masa kerja. Di kerjaan pertama gue ini, sesungguhnya gue menemukan fakta lain lagi. Gue merasa teman-teman kerja ini lebih intens lagi ketemunya. Ketemu dari jam 9 sampai jam 7 malam, malahan gue sering nongkrong sama mereka kalo pulang kantor. Terus pulang kantor, masi ngobrolnya sama mereka-mereka juga. Ibaratnya, keseharian gue yang paling tau ya teman-teman kantor ini. Fakta lain yang gue temukan adalah, di luar teman-teman kantor ini, kita semua punya teman-teman dekat lain, yang mana kita temui setelah kerja atau di saat weekend. Gue selalu berpikir kalo mungkin gue ga akan ketemu sama anak-anak kantor lagi seandainya kita sudah beda kantor. Karena waktu lowong itu akan digunakan sama teman-teman lain tersebut bukan? 

Singkat cerita, selama kurang-lebih 2 tahun ini, gue kenal dengan orang-orang ini... yang sekarang 70% nya adalah mantan teman kantor. Mungkin gue ga bisa cerita kenapa jadi mantan teman kantor ya, karena domestik banget kisahnya... Tapi yang jelas, di hari Selasa kelabu ini yang manalah hujan juga, gue jadi sedih nan galau. Awalnya gue melihat layar list of conversations skype gue, seharian ini gue ngobrol sama Reza, Eka, Fahmy, Celine, dan Astrid. Mereka adalah mantan teman kantor gue. Senangnya, karena masih cukup intens ngobrol sama mereka-mereka ini. Sebetulnya, Celine udah lama juga jadi mantan teman kantor. Hampir setahun. Tapi ternyata masih ngobrol setiap hari juga. Senang. Sisanya jadi mantan teman kantor kurang lebih sebulan deh. Biasanya, kita ngobrol atau gunjing pribadi di skype. Habis itu kita ngobrol langsung atau makan bareng di pantry, sambil ngikik-ngikik sendiri. Ah those good old times. Rasanya udah lama banget ngeliat mereka semua di kantor. Sekarang gue liat di instagram, snapchat, atau path aja. Aneh rasanya. Ini gabungan rasa sedih pas lulus SMA dengan perasaan baru. 

Perasaan baru yang intinya tempat kerja ya bukan institusi sekolah, tidak ada certain period of time yang menentukan berapa lama seorang ada disana. To think about it, ini rasa secure yang ditawarkan oleh sekolah. Ada waktu tertentu yang ditetapkan untuk dilewati kita semua murid-murid. Mulai kuliah, sebetulnya masih ada waktu tersebut, tapi kita sudah lebih mandiri untuk menentukan arah kita sendiri dan bekerja lebih keras kalau mau cepat selesai. Kerja. Nah, kerja itu sungguh berbeda. Kita sungguh mengatur karir dan masa depan di tempat kerja kita, berapa lama kita mau di satu tempat, apa yang mau kita capai.

Naif memang kalau berharap kita semua akan sama-sama terus di tempat kerja ini, seberapa menyenangkan nya pun teman-teman dan tempat kerja itu. But for a while, I just wished that it could end like that. Intinya, gue cuma mau bilang bahwa teman itu bisa ditemukan di mana saja. Tapi teman yang sungguh-sungguh bisa dekat di hati... pasti ga banyak. Jadi darimanapun teman itu, mau dari sekolah, kuliah, kerja, atau random sekali pun... Kalau mereka bisa dekat di hati, ada baiknya dijaga pertemanan tersebut~


Monic

31 December 2015

365/365

Glad that I could spend the last week of 2015 with the loved ones. Where life is just the same like how it used to be. Full of laughter and worry-free. Escaping real world for a while and ready for 2016! Yahooooo!

Nataya's birthday

Black Christmas Lunch with the Dragons

Signing out from 2015 with much pleasure.

26 November 2015

In the end of 2015

taken at Nami Island, South Korea

Probably this was one of the best vacation I have ever had. Getting to experience the loveliest season in one of my favourite country. It was indeed a sweet escape. Winning a round trip ticket from Facebook quiz. Flying alone for the first time in my life. To think about it, as I said before 2015 is not a really good year for me. But approaching the end of the year, many many interesting things happen in my life (this vacay is just one of them). By interesting, I mean is unexpected and changing the way I see things. Soooo let's just hope that it will be a good interesting thing! 

09 November 2015

Koreaan lagi

Weekend kemarin seharian hujaaaan. Flu melandaaaa, akhirnya tak kemana-mana. Seharian bener-bener cuman tidur, makan, sambil diselang nonton drama Korea. Iya, drama Korea lagi. Dari jaman kapan hidup gue diisi dengan drama Korea teruuus. Tapi sungguhan loh, gue kayak merasa drama Korea itu my best companion apalagi jaman kuliah. Masa-masa suram hidup gue. Sampai akhirnya gue nonton City Hunter. Terus hari-hari gue menjadi jauh lebih bermakna HAHAHA. Bangun pagi lebih berarti karena pulangnya ada yang gue tunggu, nonton drama Korea. Sampai sekaraaang, tepatnya kemarenan ini, gue akhirnya merasakan arti drama Korea lagi (sumpah, ini lebay banget). Seharian cuma nonton SeonJoong dan HyeJin. Malah hujan juga lagi seharian, kayak di dramanya. Jadi bisa relate banget  sama ceritanya. Tentunya yaa dua hari saja 10 episodes sudah. Sekaarang mau lanjut nonton takut-takut penasaran. Takut ceritanya habis tapi penasaran sama ceritanya. Fiuh.

Anywaaaaay. Monic is going back to Seoul! Wohoooo!


Ngepost ini di instagram 34 minggu yang lalu. And the day after tomorrow... I am going to South Korea! Yaaaaay! Dari segala kedramaan dan berkat menang round-trip ticket dari Korean Air. Akhirnya aku bisa ke Korea lagi. Oooooh feels <3 br="" nbsp="">

19 October 2015

October this year

I marked October 5, 2015 as the toughest day in this year (after series of worst days in 2015).  Come to think about it, October has been a different month for me. Different month, different life. I went out every weekend. Tried new places, went by my own. 
On the 3rd, I went to my senior high school with my soulmate. Ah, that place. All the memories. I took the public bus. The same bus that I used to ride back in high school days. It was a nice ride. Saturday morning. No traffic. Even I could enjoy the road in not so convenient public bus. I spent the whole day with my soulmate, went to Passer Baroe, ate the famous Bakmi Aboen, and ended up at Grand Indonesia to have dinner. 
On the 10th, I went to Summarecon Mall Bekasi with my bestie. Lol. Soulmate, bestie, after all they are my best friends that still stick with me until this very day. I went to Jatibening first (her house) and then went together to SMB. Spent the whole day together, shopping, eating, talking, photo boxing. I took APTB bus this time. My second time riding in that bus. Quiet nice. Not too many people. I arrived in Bekasi in no time. For the record, Summarecon Mall Bekasi is really really similar with Summarecon Mall Serpong. Well they are construed by the same developer but still! The chair in downtown, the downtown concept, and everything else!
On the 18th, I went to Taman Mini Indonesia Indah who is staying at one of the museum (part of her job program). I took bus Transjakarta. It's not that since the bus was quite packed on Sunday morning blah. But since there's no traffic, I could not complain too long. I went home in the evening and had my favourite classic bento near my home. 

For me, it was all quite a journey. I am used to going to malls only for the weekend. And the mall is usually the same. Grand Indonesia. I rarely take bus to go on the weekend. So all the APTB, bus, and Transjakarta experiences are quite new to me.

Besides those weekend activities outside home, I am currently having new routine. Twice a week I run. Yes. Running. Really running. On Thursday and Saturday. Surprisingly, it is refreshing and addictive. Thursday running is at GBK in the evening. Saturday running is at park near my home in the morning. I am quite surprised that I can get up early on Saturday morning. Come to think about it, what drives me to run is the fact that I can forget everything for a while. I'm so focused to reach my goal (checkpoint) that I can't even think about anything else. It is liberating. That's why it is addictive I guess. 

I am also an early bird at the office now. I go to work at 7 am and arrive at around 8 to 8.30 am. I am not involved in drama anymore. The traffic jam is still there but not killing me. I can have a nice breakfast first thing before work. It's all good for now.

Dear October (and 2015), be good por favor :)

21 September 2015

I'm thankful to have you in my life

Sabtu lalu ketika lagi goler-goler di kasur, gue ketemu blog orang. And I can say that semua yang dia tulis itu seperti cerminan diri gue sendiri. Dia mulai blogging dari 2008. Isi blognya dalah kisah-kisah kocak kehidupan di kelas dan sekolah, main sama teman-teman sekolahnya, terlalu attached dengan teman-teman sekolah saat kuliah, isinya kekangenan dia dengan masa sekolah, masa-masa sulitnya dia saat kuliah, betapa dia pengen banget bisa sekolah lagi, rutin balik ke sekolah saat ada cup gitu. Not to mention dia juga pencinta quote, romantic comedy movie. Gue yakin gue bisa ngobrol banyak banget sama dia kalo ketemu. Hahahahaa. What I want to write sebenarnya adalah salah satu post dia tentang teman baiknya :

"Gimana pun juga paling nyaman itu sama temen-temen sekolah, orang yang uda kita kenal bertahun-taun. temen kuliah itu banyak yang baik, tapi tetep temen yang udah kita kenal dari smp, sd, itu rasanya tetep lebih deket di hati, lo bisa yakin seratus persen kalo mereka itu tulus, ga berusaha nyari keuntungan, ga ada udang di balik batu... Cari sahabat itu sama aja kayak nayri pacar. Cari orang yang bisa bikin lo jadi seseorang yang lebih baik. bukan orang yang  bisa menyelesaikan segala macem masalah, tapi orang yang selalu ada di sisi kita dan nemenin kita ngadepin dunia...Friends are the bits of bacon in the salad bowl of life."

Saat membaca ini gue jadi sadar kenapa gue attached banget sama temen-temen sekolah gue. Orang-orang yang udah gue kenal separuh hidup gue. Dari gue umur 12 tahun sampai sekarang udah mau umur 24 tahun. Dari masih pake rok biru, sampe sekarang udah kerja, mungkin bentar lagi ada yang married. Hahahaha. Gue juga melihat ada salah satu teman dekat gue di kantor yang uda temenan dari tk atau sd sampai sekarang. Itu uda kayak 20 tahun masa hidup dihabiskan dengan orang-orang yang sama. 

Mungkin memang orang-orang ini ga bisa lu temuin setiap hari karena ya masing-masing udah ada hidup sendiri. Tapi setiap ada waktu, lu selalu luangkan untuk dihabiskan sama mereka. Karena buat gue setidaknya, bertemu mereka adalah seperti pulang ke rumah. Uda capek main kemana-mana, kerja kemana-mana, ujung-ujungnya ya mereka juga yang dicari. Hal itu yang selalu gue rasakan saat ketemu sama temen-temen gue dari jaman smp itu sejak hari gue meninggalkan bangku sekolah dulu sampai hari ini. Ketemu mereka itu menyenangkan, mengingatkan gue sama masa-masa sekolah yang menyenangkan dan worry-free, masa-masa masih membangun mimpi-mimpi, sampai sekarang lagi bersama-sama mencapai mimpi tersebut. Sejenak melupakan kehidupan nyata yang gue jalani dan menyegarkan pikiran.

So for that, I'm thankful to (still) have all of you in my life.


27 August 2015

Not sad is great

Going through half of this year... I can say that 2015 is not really "my year". Lost something that never have I imagined losing, constantly got sick, went through some bad days, etc. The worst day as I remember was in early April. I clearly remember that there was so much in my head and my mind that finally my body couldn't handle it and I ended up getting sick and having some rest days, doing nothing, just laying in the bed. Talking about the worst day, sadly, yesterday was somehow coming close as another worst day in my life. My finger was injured, my eyes were swollen, my phone was broken and... I was on my first day of period. Oh life. I couldn't even think of what I wanted to do, what I needed to do. I couldn't decide anything, but I was so tired that I decided to sleep. Just sleep. And I'm glad that my body understands me lol. I had a pretty good sleep. I sleep away all the problems. I know that when the morning comes.. I have to face the problem. My finger is still injured, my eyes are still a bit swollen, my phone is still broken, and I am on the second day of my period.

So this is what I think about :
No matter what happens in your life, the world will keep on moving. So you just can't keep on standing, you get to work your ass off, and face the world. Just see those worst days in your life as lessons and experiences to create a better version of yourself. It's easy to fake a smile but it's even easier to get angry. It's easy to pretend but it's easier to be real to yourself. Just keep on moving cause the world will not be waiting for you, ever. And remember, not sad is great.

18 August 2015

It was for us

Akhirnya gue menemukan jawaban permasalahan yang gue bahas disini. Dulu gue berhenti di kesimpulan bahwa entah apa yang uda lu usahakan, kalo emang bukan destiny lu ya ga bakal dapet. Suatu pagi gue lagi scrolling instagram, dan gue menemukan ini :


Ini di-post sama founder @instagodministries, Shawn Mckenzie. Caption nya :
God presents a job in your email that has a due date and you put it off for whatever reason. Days have passed by and you missed the due date. You get upset throwing a fit and say out of frustration "Well I guess it wasn't for me." You mean to tell me the job wasn't for you because you chose not to fill it out – out of laziness?" We all have missed an opportunity in our lifetime due to laziness, stubbornness, and procrastination. People have this idea that just because something is for you it means you sit and take no action. The application isn't going to fill itself out and God isn't going to do it for you. God provides. He doesn't build the birds nest. He gave them a mouth and wings to grab branches off trees and the ground to build their own home. When God presents an opportunity it's up to you to grab it. Opportunity doesn't sit and wait on nobody. It continues to move and pass by until someone takes it by force! Just because God promised you something does not mean "you" cannot lose it. The promise was kept. The opportunity came to you but you chose to sit on it. Your flight is scheduled to take off at 8:00am but boards at 7:45am and you show up a min or two after 8:00am. The doors are shut. "Well I guess it wasn't meant for me to catch my flight," no, you were late! Take some ownership and stop blaming others, the devil, circumstances and overly spiritualizing everything. God kept His Word. The promise passed by but you just sat there waiting. Get in position and go get what's yours; run. Stop wasting time!
Opportunity doesn't sit and wait on nobody. It continues to move and pass by until someone takes it by force! Just because God promised you something does not mean "you" cannot lose it. The promise was kept. The opportunity came to you but you chose to sit on it. 

Tips Mengelola Keuangan

Sebelum bekerja dan menghasilkan uang sendiri, saya terbiasa menyisihkan sedikit dari uang jajan saya untuk ditabung. Sejak mulai bekerja kira-kira satu setengah tahun yang lalu, saya mulai benar-benar mengelola keuangan saya sehari-hari. 

Awalnya, saya menghitung kebutuhan sehari-hari: primer dan tersier. Kebutuhan yang saya golongkan ke kebutuhan primer (15%) adalah kebutuhan yang statis, memiliki jumlah yang sama setiap bulannya, dan tidak dapat diganggu gugat; seperti transportasi, pulsa, dan sumbangan rutin gereja. Sedangkan kebutuhan tersier (25%) adalah kebutuhan yang lebih bersifat "tambahan", dan dapat disesuaikan jumlahnya; seperti makan di restoran, belanja pakaian, buku, atau tas. Total kebutuhan sehari-hari saya adalah 40% dari gaji bulanan, maka saya langsung menyisihkan 60% sisanya untuk ditabung di awal.

Presentase kebutuhan primer saya tergolong cukup rendah, karena saya dapat menghemat dengan membawa bekal untuk makan siang dan mengurangi ongkos transport ke kantor dengan berangkat bersama ayah. Saya menetapkan angka 25% untuk kebutuhan tersier, sehingga hidup saya dapat berjalan fleksibel. Walaupun rutin membawa bekal, ketika ingin jajan sore saya tetap akan jajan dan sebagainya. Intinya, segala keinginan yang bersifat tersier dapat tetap terlaksana dengan jumlah yang telah saya tetapkan. Apabila ada sisa dari jatah kebutuhan tersier, saya akan menggunakannya sebagai "reward" yang dapat saya gunakan di akhir bulan.

Saya menggunakan kartu kredit untuk mengatur kebutuhan tersier dengan pintar-pintar melihat tanggal rekening dan tanggal jatuh tempo. Tanggal rekening penting untuk "menunda" tagihan sementara tanggal jatuh tempo penting untuk memastikan ketepatan waktu pembayaran. Dengan memperhatikan kedua hal itu, kita dapat memanfaatkan fungsi dari kartu kredit tanpa menjadi terlalu konsumtif atau sampai terlilit hutang.

Untuk tekhnis menabung, saya memiliki dua rekening. Satu rekening untuk menabung dan satu rekening untuk pengeluaran. Setelah menerima gaji, saya akan langsung memisahkan uang untuk tabungan dan pengeluaran. Rekening pengeluaran saya gunakan untuk cash flow sehari-hari (transaksi dengan Internet Banking atau mengambil uang di ATM) sementara ATM rekening tabungan tidak pernah saya bawa sehari-hari.

Saya pun sudah mulai untuk berinvestasi. Dari beragam jenis investasi yang ada, saya memilih untuk menaruh uang di investasi beresiko rendah, yaitu Deposito berjangka dan Provisa. Sistem deposito berjangka memastikan saya tidak menggunakan uang simpanan tersebut untuk jangka waktu tertentu. Setiap 6 bulan saya memasukkan uang ke rekening deposito dari akumulasi tabungan bulanan saya. Sistem Provisa membuat saya semakin disiplin menabung dengan cara menyisihkan sejumlah uang setiap bulannya yang akan diakumulasikan dan menghasilkan bunga di atas bunga tabungan setelah periodenya habis, ditambah dengan fasilitas asuransi jiwa yang secara otomatis diperoleh (tanpa premi tambahan). Tabungan di Provisa saya ambil dari 60% jatah tabungan setiap bulannya. Selain itu, saya juga menginvestasikan sedikit uang untuk membeli USD dan emas batangan. Hal yang harus diperhatikan ketika berinvestasi adalah memastikan uang yang tersisa di rekening tabungan harus sejumlah 2-3x kebutuhan bulanan kita.

Seperti hal lain dalam hidup saya, saya selalu membiasakan diri untuk menentukan tujuan yang ingin diraih, agar kemudian saya dapat menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk masalah keuangan, saya menentukan jumlah uang yang harus dapat saya kumpulkan setiap tahunnya, apa yang ingin saya beli dengan uang yang telah terkumpul tersebut, dan modal yang harus saya punya untuk dapat memulai usaha sendiri. Tujuan ini mempengaruhi hal lain dalam hidup saya seperti besarnya gaji yang saya peroleh, bagaimana saya dapat memperoleh uang tambahan. 

Demikian sharing pengelolaan uang yang saya lakukan setiap bulannya. Semoga menginspirasi!

11 August 2015

27 July 2015

It is more than okay to feel what you feel

"Stop minimizing and discounting your feelings. You have every right to feel the way you do. Your feelings may not always be logical, but they are always valid. Because if you feel something, then you feel it and it’s real to you. It’s not something you can ignore or wish away. It’s there, gnawing at you, tugging at your core, and in order to find peace, you have to give yourself permission to feel whatever it is you feel. You have to let go of what you’ve been told you “should” or “shouldn’t” feel. You have to drown out the voices of people who try to shame you into silence. You have to listen to the sound of your own breathing and honor the truth inside you. Because despite what you may believe, you don’t need anyone’s validation or approval to feel what you feel. Your feelings are inherently right and true. They’re important and they matter — you matter — and it is more than okay to feel what you feel. Don’t let anyone, including yourself, convince you otherwise." —Daniell Koepke

23 July 2015

berlin-artparasites

A good read is a treasure for me. I always have interest for good writings or stories (Humans of New York for instance). Recently I just found a Facebook page named  berlin-artparasitesBased on the  profile description, berlin-artparasites shares compelling artwork that alters the way we live, love, work, play, think and feel. And I loveee it. I especially love the comment sections. I always have something about solitude, and there's a lot about it on the page. I spent quite some time reading all the posts and got myself drown in it. Here's some of my favourite comments :





And to pick one of my fav posts (tho I haven't gone through 1/3 of it..), I gotta pick this one :

Dear future child. If it’s 3am and you find yourself in a world of complete despair. Please do not turn to strangers on the internet for solace as I did. Please climb onto my bed. And I will hold you until the demons sleep. If it is Thursday morning and you are too sad to move. I won’t force you. I will buy ice cream and we will watch your favourite tv show and I will remind you of your importance. If you feel as if you have no purposeI will remind you that you were created entirely with love and every pain you feel, I feel too. When you’re sure you can’t go on anymore. I will tell you that when I was 21 I searched for peace at the bottom of a vodka bottle chased by a bottle of pain killers. But that five years later. When you were placed in my arms in the delivery room. I realised that you were why I had been holding on. Without realising it, you saved me, do you know how amazing that is? So if you ever feel like grabbing that vodka bottle, put it down, we will get in the car and I will drive until the sky turns magenta. I will show you how the sun rises every morning to encourage you to rise too. Sweetheart I refuse to be unaware of your sufferings. As my mother was to mine. ―Ellis Jayne Edwards

Not that I already have a child or I am nearly having my own child, but for quite some time, I think about my future child. When I get tired or unmotivated, this future people that will be mine come to my head. Maybe this is the kind of "I-knew-I-loved-you-before-I-met-you" love or "how-can-you-love-someone-so-much-that-you-never-met". It's weird for most people, I know. Well now I'm going to continue reading and find more good stuffs.

15 July 2015

another milestone

Tiga setengah tahun kuliah, ga banyak kenangan yang gue punya, ga terlalu banyak sosialisasi, teman dekat pun beberapa aja. Bahkan gue sampe nggak menorehkan apapun di blog ini soal hari kelulusan itu. Tadi lagi iseng-iseng bacain posts lama jaman kuliah, terus keinget masa-masa itu jieee. Gue masih inget betapa senengnya gue pas akhirnya lolos UMB dan masuk hukum UI. Perjuangan belajar setiap hari di rumah dan di BTA... Beh. Akhirnya kebayar juga. Agak ironis sih memang karena setelah menjalankan kuliahnya malah ga sesenang yang dibayangkan atau lebih senang dari saat keterima. Salah satu hal yang memotivasi gue untuk kuliah adalah figur seorang senior SMA yang juga satu tempat kuliah, yang sangat menginspirasi gue (levelnya kayak how Dian Sastro inspires me lol). I do remember that I made a promise to myself since college day one that I am going to graduate cumlaude in 3.5 years. And three and a half years later, I did achieve it. 

Another milestone was completed and I am really looking forward to getting another ones. I know it's a bit different this time cause I haven't set my exact goal yet. I never really live without any plan secured in my head, so I do have a big picture for what I want in my life. Talking about this exact goal, well, I need a lil bit more time before stepping in the next milestone. Just wait for it, self ;)

promise/gift to myself

skripsweet

KMK FHUI 

college buddies

fellow Theresians. 


Persie is saying goodbye to English Premier League!









Kira-kira 3 tahun lalu, gue ngepost tentang ini :
As I said before, I love Van Persie therefore I love Arsenal. Van Persie left Arsenal, so did I. I'll support Persie wherever he is. It feels weird to see Persie as ManUtd player indeed. Just wanna say "Have a good time in Old Trafford, RVP!"

Masa-masa itu gue masih ngikutin EPL banget, karena bisa nonton pertandingannya tiap akhir minggu. Kalo sekarang... gue nonton juga udah ga pernah, terakhir nonton itu kayaknya pertandingan terakhir Persie di MU pas dapet gelar juara liga ke-20. Buset udah 2 tahun ga nonton haha. Gue emang lebih interest nonton bola yang bentar gitu sih kayak Piala Dunia atau Piala Eropa. Nah sekarang ternyata Persie pindah dari MU, cuma 3 tahun aja Persie disana. Tahun pertama yang gemilang sebagai top-scorer EPL dan dapet juara EPL pertama setelah 8 tahun merumpun di Inggris. Tapi 2 tahun setelahnya berlalu kayak gitu aja.  Ga ada apa-apa, cenderung ga produktif. Terus tengah tahun ini diisukan akan keluar dari MU demi tempat di skuad Belanda untuk Piala Eropa 2016. Gue ga gitu merhatiin juga kan, sampe akhirnya liat di berita Persie pindah ke Fenerbahce. Apakah itu? Namanya agak familiar tapi ga bisa sebutin satu pemainnya hahaha. Ternyata klub Turki gitu, lumayan terkenal disana, terkenal banget malah. Jadilah kemarin ini Persie sama keluarganya berangkat ke Istanbul, Turki untuk medcheck segala macem dan uda resmi jadi pemain Fenerbahce! Wohooow. Gue gatau bisa nonton Persie main dimana, secara nonton EPL aja ribet sekarang. Afterall, all the best luck for RVP! Van Persie left MU, so did I. I'll support Persie wherever he is.